Jakarta – Indonesia sudah siap menatap revolusi industri 4.0. Lewat Kementerian Perindustrian (Kemenperin), pemerintah telah menyusun 4 peta jalan dalam menghadapi revolusi industri generasi keempat ini. Harapannya, industri Indonesia bisa maju dan bersaing secara global.

Perlu diketahui, revolusi industri 4.0 ini ditandai dengan perkembangan teknologi informasi yang masif. Digitalisasi sudah menjadi penyokong utama kehidupan manusia. Era yang juga disebut sebagai era disrupsi ini bakal mempercepat proses bisnis.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartato menekankan dalam memasuki revolusi industri generasi terbaru ini, sektor manufaktur nasional harus melakukan perubahan. Terutama soal pendekatan dan pembaruan sistem produksi yang lebih inovatif dan berkelanjutan.

“Ketika negara masuk ke industri 4.0, pertumbuhan industri yang menyeluruh dan berkelanjutan cenderung terjadi. Oleh karena itu, kami telah menyiapkan empat langkah strategis agar Indonesia mengimplementasikan industri 4.0,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

(Baca juga: Presiden Harap Itera Lahirkan Generasi yang Siap Menyongsong Revolusi Industri 4.0

Pertama, menurut Airlangga, pihaknya tengah mendorong agar angkatan kerja di Indonesia agar bisa menguasai teknologi informasi. Ini agar kemampuan internet bisa diintegrasikan dengan lini produksi di industri.

“Guna mendukung upaya tersebut, kami juga menginisiasi pelaksanaan pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dan industri,” ujarnya. Pengembangan program ini sekaligus menyiapkan tenaga kerja terampil yang siap pakai di dunia industri dengan target mencapai satu juta orang pada 2019.

Langkah kedua, yakni pemanfaatan teknologi digital untuk memacu produktivitas dan daya saing bagi industri kecil dan menengah (IKM). Dengan begitu, IKM mampu menembus pasar ekspor melalui program e-smart IKM.

“Program e-smart IKM ini merupakan upaya juga memperluas pasar dalam rantai nilai dunia dan menghadapi era Industry 4.0,” imbuhnya.

(Baca juga: Kemenperin Inginkan Indonesia Masuk 10 Besar Ekonomi Dunia)

Ketiga, lanjut Airlangga, kementerian mendorong industri nasional agar menggunakan teknologi digital seperti Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality.

“Sistem industri 4.0 ini akan memberikan keuntungan bagi industri, misalnya menaikkan efisiensi dan mengurangi biaya sekitar 12-15%,” ungkapnya.

Airlangga menyebutkan, sejumlah sektor industri nasional telah memasuki era industri 4.0, yakni industri semen, petrokimia, otomotif, serta makanan dan minuman.

“Misalnya industri otomotif, dalam proses produksinya, mereka sudah menggunakan sistem robotic dan infrastruktur internet of things,” tuturnya.

(Baca juga: Menperin: Pengembangan Kendaraan Pedesaan Percepat Pembangunan Daerah Pinggiran)

Kemudian, di industri makanan dan minuman, teknologi industry 4.0 diterapkan pada pemilihan bahan baku, tetapi untuk proses pengemasannya tetap menggunakan tenaga manusia. “Jadi, kombinasi tersebut masih labor intensive, tidak menggantikan,” tegasnya.

Langkah terakhir, inovasi teknologi melalui pengembangan startup dengan memfasilitasi tempat inkubasi bisnis. Upaya ini telah dilakukan Kementerian Perindustrian dengan mendorong penciptaan wirausaha berbasis teknologi yang dihasilkan dari beberapa technopark.

Indonesia telah memiliki beberapa technopark. Di Jawa, sudah didirikan Bandung Techno Park dan Incubator Business Center Semarang. Di luar Jawa, ada tiga kota yang sudah punya technopark. Denpasar (TohpaTI Center), Makassar (Makassar Techno Park – Rumah Software Indonesia, dan Batam (Pusat Desain Ponsel).

“Pusat pengembangan inovasi tersebut juga akan ditambah dengan Innovation Center milik Apple. Jadi dari seluruh ekosistem ini, kami ingin merajut kebijakan strategis ke depan untuk memacu pertumbuhan dan daya saing industri nasional, termasuk menyiapkan insentifnya,” paparnya.

Source