(gambar dari theindonesianinstitute.com)

UU ITE : Sebuah UU Karet

UU Karet berarti UU yang tidak memiliki tolak ukur yang jelas sehingga ketika dipakai bisa diduga sengaja di longgarkan sehingga bisa menjerat orang yang dimaksud. Belakangan ini pihak oposisi menyatakan bahwa UU ini merugikan mereka dan sebagai alat penguasa, penulis jadi ingat sebuah permainan masa lalu yaitu “jepret karet” dimana karet dibentuk seperti ketapel untuk di “jepretkan” ke pihak lain, sebuah permainan yang populer sebelum Mobile Legend dan PUBG.

UU No. 11 Tahun 2018 adalah wadah dari pasal karet terutama pasal 27 dan 28 yaitu tentang pencemaran nama baik dan hate speech di media online. Disini kita akan melihat UU ini dengan isu yang sedang populer yaitu Ratna Sarumpaet dan Mahfud MD

A. Ratna Sarumpaet : Salah Satu Penjerat Pembohong Media Online

Gambar dari detiknews.com

Beliau Dijerat dengan pasal :

Pasal 14 UU Nomor 1 tahun 1946.
(1) Barang siapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggitingginya sepuluh tahun.
(2) Barang siapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan, yang dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun.

Pasal 28 ayat 2 UU ITE.
(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Beliau sendiri sudah mengaku salah sehingga pembicaraan dalam situasi pemilu 2019 adalah apakah ini direncanakan atau ” Prank Gone Wrong”, tentu persidangan masih berlanjut dan pembicaraan yang sedang terjadi adalah “Apakah ada Keonaran dan kebencian yang disebabkan ?”, belum ada kelanjutan hasil dari persidangan.

Setidaknya salah satu pasal UU ITE bisa digunakan untuk mereka yang dengan sengaja menyebarkan berita bohong terlebih tema yang diusungkan dan kedudukan beliau yang tidak main -main yaitu Tim Pemenangan Paslon Prabowo -Sandi dimana dugaan penganiayaan tokoh oposisi menjelang pemilu adalah berita yang tidak bisa dijadikan candaan

B. Mahfud MD : Pelapor Yang Waras

Gambar dari wartakotalive.com

Jumat 1 Maret 2019 Mahfud MD resmi melaporkan akun twitter kakekkampret ke polisi

Gambar dari twitter.com

Tuduhan bernada fitnah ini membuat naik pitam seorang Mahfud MD, dimana integrasinya sebagai tokoh anti korupsi merasa tercemar, disini penulis tidak menganggap Mahfud MD sebagai seorang anti kritik karena beliau sering menjawab kritikan masyarakat melalui twitternya. Jadi ini benar-benar tindakan yang dirasa perlu untuk dilakukan

Pelapor Waras diberikan penulis karena memang sebelumnya sudah memberikan tanda kepada akun tersebut berupa like dengan anggapan bahwa dia akan mengerti bahwa dia sedang diawasi namun justru menggembangkan narasi dan akhirnya Mahfud MD mengajaknya berbicara di kantor polisi. Belum ada statement resmi tentang pasal yang menjerat tapi sepertinya Pasal 27 Ayat 3 UU ITE

(3) Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau
membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan
penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Pasal-pasal UU ITE diatas adalah pasal karet yang nantinya dibahas dengan penuh subjektivitas, namun setidaknya bisa dipakai untuk menindak kasus-kasus diatas .