Tingkat Inflasi merupakan salah satu permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh hampir semua negara di dunia. Negara maju maupun negara berkembang pastinya pernah mengalami pemasalahan ekonomi yang satu ini, hanya tingkatannya saja yang berbeda. Sebagai negara berkembang, Indonesia pun tak luput dari yang namanya inflasi. Berbagai upaya pun telah dilakukan oleh pemerintah kita, namun tetap saja inflasi tak dapat dihindarkan. Lantas apa sebenarnya inflasi dan apa dampak dari tingkat inflasi bagi perekonomian nasional kita? Berikut adalah uraiannya:

Tingkat Inflasi di Indonesia

Tingkat Inflasi di Indonesia (sumber gambar: kaskus.co.id)

Jenis Inflasi

Inflasi sendiri adalah kenaikan harga barang secara merata dan terus menerus. Kenaikan harga pada satu atau dua barang saja tidak dikatakan sebagai inflasi. Inflasi terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  1. Inflasi yang berdasarkan pada tingkat keparahannya

Berdasarkan tingkat keparahannya,inflasi terbagi lagi menjadi tiga, yaitu inflasi tingkat rendah, inflasi tingkat sedang, dan inflasi tingkat tinggi. Inflasi tingkat rendah adalah inflasi di mana kenaikan harga berjalan lambat dan berpersentasi kecil (di bawah 10 persen setahun). Inflasi tingkat sedang dikatakan terjadi apabila kenaikan harga berjalan sedang dan memiliki tingkat persentasi antara 10-30 persen setahun. Inflasi tingkat tinggi terjadi jika kenaikan harga berjalan sangat cepat dan nilai persentasinya antara 30 hingga 100 persen setahun. Jika kenaikan harga supercepat dan persentasinya mencapai lebih dari 100 persen, kondisi seperti ini disebut hiperinflasi.

  1. Inflasi yang berdasarkan penyebabnya

Berdasarkan penyebabnya,terdapat dua jenis inflasi, yaitu Cost-Push Inflation dan Demand-Pull Inflation.

  1. Inflasi yang berdasarkan asalnya

Inflasi, berdasarkan asalnya, dibedakan menjadi 2, yaitu inflasi yang terjadi karena APBN yang defisit dan inflasi karena imported inflation. Inflasi yang terjadi karena APBN yang defisit terjadi akibat pertumbuhan uang yang beredar melebihi permintaan, sedang imported inflation terjadi di sebuah negara yang memiliki peranan besar bagi perekonomian dunia. Sebagai contoh, inflasi yang terjadi di Amerika Serikat tentunya akan berdampak bagi negara-negara lain yang menetapkan Amerika Serikat sebagai salah satu negara importir.

Dampak Inflasi

Permasalahan ekonomi terutama inflasi tentunya membawa dampak bagi kehidupan masyarakat kita. Akibat tingkat inflasi yang tidak stabil, timbullah deviasi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan tingkat deviasi yang pernah diprediksikan oleh pemerintah Indonesia, khususnya oleh Bank Indonesia. Salah satu dampaknya yaitu meningkatnya biaya-biaya ekonomi seperti biaya peminjaman yang lebih tinggi. Kondisi ini diperparah lagi dengan minimnya kualitas dan kuantitas infrastruktur di negara kita. Contoh nyatanya yaitu biaya transportasi baik jasa maupun produk meningkat sehingga membuat harga logistik menjadi tinggi. Iklim investasi di negara kita pun terlihat kurang menarik.

Dengan latar belakang inilah, Pemerintah Indonesia saat ini sedang berbenah terutama soal infrastruktur di mana rencana pembangunan infrastruktur diprioritaskan, bahkan menjadi bagian dari MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia). MP3EI sendiri merupakan sebuah program/ rencana pembangunan jangka panjang yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia.

Dampak serius lainnya dari adanya inflasi yaitu harga pangan yang tidak stabil plus efek perubahan cuaca yang juga turut mempengaruhi kualitas dan kuantitas bahan pangan. Pihak yang paling merasakan dampak ini adalah masyarakat kita yang hidup dengan tingkat perekonomian rendah. Mereka menghabiskan setengah atau bahkan lebih dari setengah dari pendapatan mereka setiap harinya untuk membeli bahan pangan, terutama beras. Dengan kata lain, inflasi secara tidak langsung menambah jumlah penduduk miskin. Melihat dampak-dampak seperti ini, pemerintah diharapkan untuk dapat segera menangani permasalahan ekonomi, khususnya inflasi.

Source