BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Dua masalah
ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat adalah pengangguran dan inflasi,
cara untuk mengatasi kedua masalah
ekonomi tersebut dibutuhkan peran pemerintah untuk membuat kebijakan ekonomi.
Karena hal ini menunjukkan bahwa perekonomian tidak selalu mencapai kesempatan
kerja penuh. Masalah dari berbagai negara adalah masalah pengangguran dan
menunjukkan bahwa mekanisme pasar tidak mampu mengatasi masalah ini.

Sehingga
peran pemerintah dalam membuat kebijakan ekonomi sangat diperlukan guna
mengatasi masalah perekonomian yaitu pengangguran dan inflasi. Adapun tiga
bentuk kebijakan pemerintah adalah kebijakan fiskal, kebijakan moneter, dan
kebijakan segi penawaran

1.2 Rumusan masalah

1)
Apa yang dimaksud dengan pengangguran ?

2)
Apa yang dimaksud dengan inflasi ?

3)
Apa yang dimaksud dengan kebijakan
moneter ?

4)
Apa yang dimaksud dengan kebijakan
fiskal ?

5)
Apa hubungan antara inflasi, kebijakan
moneter, kebijakan fiskal dan pengangguran?

1.3 Tujuan

1
Untuk mengetahui definisi pengangguran

2
Untuk mengetahui definisi inflasi

3
Untuk mengetahui definisi kebijakan
moneter

4
Untuk mengetahui definisi kebijakan
fiskal

5
Untuk mengetahui hubungan antara
inflasi, kebijakan moneter, kebijakan fiskal dan pengangguran

BAB II

PEMBAHASAN

2.1
Pengertian inflasi

Pengertian inflasi adalah suatu
keadaan perekonomian dimana harga-harga secara umum mengalami kenaikan dalam
waktu yang panjang. Kenaikan harga yang bersifat sementara seperti kenaikan
harga pada masa lebaran tidak dianggap sebagai inflasi, karena disaat setelah
masa lebaran, harga-harga dapat turun kembali. Inflasi secara umum dapat
terjadi karena jumlah uang beredar lebih banyak daripada yang dibutuhkan.
Inflasi merupakan suatu gejala ekonomi yang tidak pernah dapat dihilangkan
dengan tuntas. Usaha-usaha yang dilakukan biasanya hanya sampai sebatas
mengurangi dan mengendalikannya.

2.2 Penyebab
terjadinya inflasi

Inflasi disebabkan oleh kenaikan
permintaan dan kenaikan biaya produksi. Penjelasan lebih lanjut untuk kedua
penyebab inflasi tersebut adalah sebagai berikut :

1)
Inflasi karena kenaikan
permintaan (Demand Pull Inflation)

Inflasi seperti ini terjadi karena
adanya kenaikan permintaan untuk beberapa jenis barang. Dalam hal ini,
permintaan masyarakat meningkatkan secara agregat (aggregate demand).
Peningkatan permintaan ini dapat terjadi karena peningkatan belanja pada
pemerintah, peningkatan permintaan akan barang untuk diekspor, dan peningkatan
permintaan barang bagi kebutuhan swasta. Kenaikan permintaan masyarakat
(aggregate demand) ini mengakibatkan harga-harga naik karena penawaran
tetap.

2)
Inflasi karena biaya
produksi (Cos Pull Inflation)

Inflasi seperti ini terjadi karena
adanya kenaikan biaya produksi. Kenaikan pada biaya produksi terjadi akibat
karena kenaikan harga-harga bahan baku, misalnya karena keberhasilan serikat
buruh dalam menaikkan upah atau karena kenaikan harga bahan bakar minyak.
Kenaikan biaya produksi mengakibatkan harga naik dan terjadilah inflasi.

3)
Inflasi karena jumlah uang
yang beredar bertambah

Teori ini
diajukan oleh kaum klasik yang mengatakan bahwa ada hubungan antara jumlah uang
yang beredar dan harga-harga. Bila jumlah barang itu tetap, sedangkan uang
beredar bertambah dua kali lipat maka harga akan naik dua kali lipat.
Penambahan jumlah uang yang beredar dapat terjadi misalnya kalau pemerintah memakai
sistem anggaran defisit. Kekurangan anggaran ditutup dengan melakukan
pencetakan uang baru yang mengakibatkan harga-harga naik.

2.3
Jenis-jenis inflasi

Jenis-jenis inflasi atau macam-macam
inflasi dapat dibedakan berdasarkan tingkat keparahan, sumber dan
penyebabnya.

1)
Jenis-Jenis Inflasi
Berdasarkan Tingkat Keparahannya

Berdasarkan tingkat keparahannya, inflasi dapat
dibedakan atas ringan, sedang, berat, dan sangat berat.

1)
Inflasi ringan : Inflasi ringan adalah inflasi yang
masih belum begitu mengganggu keadaan ekonomi. Inflasi ini dapat dengan mudah
dikendalikan. Harga-harga yang naik secara umum, namun belum menimbulkan krisis
di bidang ekonomi. Inflasi ringan berada di bawah 10% per tahun.

2)
Inflasi sedang : Inflasi ini belum membahayakan kegiatan
ekonomi. Tetapi inflasi ini bisa menurunkan kesejahteraan orang-orang
berpenghasilan tetap. Inflasi sedang berkisar antara 10%-30% per tahun.

3)
Inflasi berat : Inflasi ini sudah mengacaukan kondisi
perekonomian. Pada inflasi berat ini, biasanya orang cenderung menyimpan
barang. Dan pada umumnya orang mengurungkan niatnya untuk menabung, karena
bunga pada tabungan lebih rendah daripada laju inflasi. Inflasi berat berkisar
antara 30%-100% per tahun.

4)
Inflasi sangat berat (Hyperinflation) : Inflasi jenis ini
sudah mengacaukan kondisi perekonomian dan susah dikendalikan walaupun dengan
kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Inflasi yang sangat berat berada pada
100% keatas setiap tahun.

2)
Jenis-Jenis Inflasi
Berdasarkan Sumbernya

Berdasarkan sumbernya, inflasi dibedakan atas inflasi
yang bersumber dari luar negeri dan inflasi yang bersumber dari dalam
negeri.

1)
Inflasi yang bersumber dari luar negeri : Inflasi ini
terjadi karena ada kenaikan harga di luar negeri. Pada perdagangan bebas,
banyak negara yang saling berhubungan dalam perdagangan. Bila suatu negara
mengimpor barang pada negara yang mengalami inflasi, maka otomatis kenaikan
harga tersebut (inflasi) akan memengaruhi harga-harga dalam negerinya sehingga
menimbulkan inflasi. Contoh, Indonesia banyak mengimpor barang-barang modal
dari negara lain. Jika di negara itu harga barang-barang modal naik, maka
kenaikannya itu akan turut berpengaruh di Indonesia sehingga menimbulkan
inflasi.

2)
Inflasi yang bersumber dari dalam negeri : Inflasi
yang bersumber dari dalam negeri dapat terjadi karena pencetakan uang baru oleh
pemerintah atau penerapan anggaran defisit. Inflasi yang bersumber dari dalam
negeri juga dapat terjadi karena kegagalan panen. Kegagalan panen menyebabkan
penawaran pada suatu jenis barang berkurang, sedangkan permintaan tetap,
sehingga harga-harga akan naik.

3)
Jenis-Jenis Inflasi
Berdasarkan Penyebabnya

Berdasarkan penyebabnya, inflasi dapat dibedakan atas
inflasi karena kenaikan permintaan dan inflasi karena biaya produksi

1)
Inflasi karena kenaikan permintaan : Kenaikan
permintaan terkadang tidak dapat dipenuhi produsen. Oleh karena itu,
harga-harga cenderung naik. Hal ini sesuai dengan hukum ekonomi “jika
permintaan naik sedangkan penawaran tetap, maka harga cenderung naik.

2)
Inflasi karena kenaikan biaya produksi : Kenaikan
biaya produksi mengakibatkan harga penawaran barang naik, sehingga dapat
menimbulkan inflasi.

2.4 Dampak Inflasi

Inflasi tidak selalu berdampak buruk bagi
perekonomian. Inflasi yang terkendali justru dapat meningkatkan kegiatan
perekonomian. Berikut ini adalah akibat-akibat yang ditimbulkan inflasi
terhadap kegiatan ekonomi masyarakat.

  • Dampak Inflasi terhadap Pendapatan : Inflasi
    dapat mengubah pendapatan masyarakat. Perubahan dapat bersifat
    menguntungkan atau merugikan. Pada beberapa kondisi (kondisi inflasi
    lunak), inflasi dapat mendorong perkembangan ekonomi. Inflasi dapat
    mendorong para pengusaha memperluas produksinya. Dengan demikian, akan
    tumbuh kesempatan kerja baru sekaligus bertambahnya pendapatan seseorang.
    Namun, bagi masyarakat yang berpenghasilan tetap inflasi akan menyebabkan
    mereka rugi karena penghasilan yang tetap itu jika ditukarkan dengan
    barang dan jasa akan semakin sedikit.
  • Dampak Inflasi Terhadap Ekspor : Pada keadaan
    inflasi, daya saing untuk barang ekspor berkurang. Berkurangnya daya saing
    terjadi karena harga barang ekspor semakin mahal. Inflasi dapat
    menyulitkan para eksportir dan negara. Negara mengalami kerugian karena
    daya saing barang ekspor berkurang, yang mengakibatkan jumlah penjualan
    berkurang. Devisa yang diperoleh juga semakin kecil.
  • Dampak Inflasi Terhadap Minat Orang untuk
    Menabung : Pada masa inflasi, pendapatan rill para penabung berkurang
    karena jumlah bunga yang diterima pada kenyataannya berkurang karena laju
    inflasi. Misalnya, bulan januria tahun 2006 seseorang menyetor uangnya ke
    bank dalam bentuk deposito satu tahun. Deposito tersebut menghasilkan
    bunga sebesar, misalnya, 15% per tahun. Apabila tingkat inflasi sepanjang
    januari 2006-januari 2007 cukup tinggi, katakanlah 11%, maka pendapatan
    dari uang yang didepositokan tinggal 4%. Minat orang untuk menabung akan
    berkurang.

Dampak Inflasi terhadap Kalkulasi Harga Pokok :
Keadaan inflasi menyebabkan perhitungan untuk menetapkan harga pokok dapat
terlalu kecil atau bahkan terlalu besar. Oleh karena persentase dari inflasi
tidak teratur, kita tidak dapat memastikan berapa persen inflasi untuk masa
tertentu. Akibatnya, penetapan harga pokok dan harga jual sering tidak tepat.
Keadaan inflasi ini dapat mengacaukan perekonomian, terutama untuk produsen. Tingkat
inflasi yang terlalu tinggi dapat membahayakan perekonomian suatu negara. Oleh
karena itu, inflasi harus segera diatas. Tindakan yang dapat diambil untuk
mengatasi inflasi dapat berupa kebijakan moneter, kebijakan fiskal, atau
kebijakan lainnya

2.5
Kebijakan moneter

Kebijakan
moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai
keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga,
pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca
pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi
ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta
neraca pembayaran internasional yang seimbang. Apabila kestabilan dalam
kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk
memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh kebijakan moneter pertama kali akan
dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil.

Kebijakan
moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi
secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga. Untuk
mencapai tujuan tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur
keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat
terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam
pasokan/distribusi barang.Kebijakan moneter dilakukan antara lain dengan salah
satu namun tidak terbatas pada instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro
wajib minimum, intervensi dipasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi
bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas.

2.6 Jenis-jenis
Kebijakan Moneter

Pengaturan
jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau
mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan
menjadi dua, yaitu:

1)
Kebijakan moneter ekspansif (Monetary expansive policy)

Adalah suatu
kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini
dilakukan untuk mengatasi pengangguran dan meningkatkan daya beli masyarakat
(permintaan masyarakat) pada saat perekonomian mengalami resesi atau depresi.
Kebijakan ini disebut juga kebijakan moneter longgar (easy money policy)

2)
Kebijakan Moneter Kontraktif (Monetary contractive policy)

Adalah suatu
kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini
dilakukan pada saat perekonomian mengalami inflasi. Disebut juga dengan kebijakan
uang ketat (tight money policy)

2.7
Instrumen kebijakan moneter

Kebijakan
moneter dapat
dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu antara
lain :

1)
Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)

Operasi
pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau
membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah
jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun,
bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual
surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara
lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan
SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang.

2)
Fasilitas Diskonto (Discount Rate)

Fasilitas
diskonto adalah pengaturan jumlah uang yang beredar dengan memainkan tingkat
bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum kadang-kadang mengalami kekurangan
uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang
bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya
menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang.

3)
Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)

Rasio
cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah
dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah
jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan
jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio.

4)
Imbauan Moral (Moral
Persuasion)

Himbauan
moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan
memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan
pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi
jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank
sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.

2.8 Tujuan
Kebijakan Moneter

Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara
kestabilan nilai rupiah. Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam UU No. 3 tahun
2004 pasal 7 tentang Bank Indonesia.

Hal yang
dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah antara lain adalah kestabilan terhadap
harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi. Untuk mencapai tujuan
tersebut, sejak tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter
dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter (Inflation Targeting
Framework) dengan menganut sistem nilai tukar yang mengambang (free floating).
Peran kestabilan nilai tukar sangat penting dalam mencapai stabilitas harga dan
sistem keuangan. Oleh karenanya, Bank Indonesia juga menjalankan kebijakan
nilai tukar untuk mengurangi volatilitas nilai tukar yang berlebihan, bukan
untuk mengarahkan nilai tukar pada level tertentu.

Dalam
pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan kebijakan
moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter (seperti uang beredar atau
suku bunga) dengan tujuan utama menjaga sasaran laju inflasi yang ditetapkan
oleh Pemerintah. Secara operasional, pengendalian sasaran-sasaran moneter
tersebut menggunakan instrumen-instrumen, antara lain operasi pasar terbuka di
pasar uang baik rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto,
penetapan cadangan wajib minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan

2.9 Fungsi
kebijakan moneter terhadap perekonomian indonesia

1)
Menjaga kestabilan ekonomi yang artinya pertumbuhan
arus barang seimbang dengan arus barang dan jasa yang tersedia.

2)
Menjaga kesetabilan harga, karena harga suatu barang
merupakan hasil interaksi antar jumlah uang yang beredar dengan jumlah uang
yang berada di pasar.

3)
Meningkatkat kesempatan kerja, pada suatu perekonomian
stabil pengusaha akan mengusahakan investasi terhadap jumlah barang dan jasa,
maka akan terdapat investasi serta membuka lapangan kerja baru yang akan
menambah kesejahteraan bagi masyarakat.

4)
Memperbaiki neraca perdagangan kerja masyarakat, yakni
dengan jalan meningkatkan ekspor dan mengurangi impor dari luar negeri yang
masuk dalam negeri atau sebaliknya

5)
Mengatasi pengangguran, yakni dengan cara Bank Sentral
menurunkan suku bunga dan Kementrian Keuangan menambah pengeluaran pemerintah
yang dapat diikuti pula dengan pengurangan pajak dengan langkah ini investasi,
pengeluaran pemerintahan, dan pengeluaran rumah tangga akan naik.

6)
Mengatasi inflasi, tindakan yang perlu dilakukan Bank
Sentral adalah dengan mengurangi penawaran uang dan menaikkan suku bunga.
Kebijakan moneter ini akan mengurangi investasi dan pengeluaran rumah tangga
(konsumen). Seterusnya Kementrian Keuangan perlu pula mengurangi pengeluaran
dan menaikkan pajak individu dan perusahaan. Langkah tersebut dapat mengurangi
pengeluaran pemerintah dan mengurangi pengeluaran rumah tangga.

2.10
Kebijakan fiskal

Kebijakan fiskal merupakan kebijakan pemerintah
yang dilakukan dengan cara mempengaruhi sisi penerimaan maupun sisi pengeluaran
pada APBN. Kebijakan fiskal pemerintah dikemukakan oleh beberapa ahli seperti para
ahli ekonomi klasik dan teori keynes. Kedua ahli tersebut mengemukakan arti
penting suatu kebijakan fiskal pemerintah dan merupakan tujuan atas berlakunya
kebijakan tersebut.

Keynes
mengemukakan bahwa kebijakan fiskal berperan dalam menstabilakan tingkat kegiatan
ekonomi dan menciptakan tingkat kegiatan ekonomi yang dikehendaki. Sedangkan
para ahli ekonomi klasik mengemukakan bahwa kebijakan fiskal berperan dalam
menekankan tentang perlunya menjalankan anggaran belanja seimbang dan
menggunakan sistem pasar bebas dimana tidak ada campur tangan dari pemerintah.

Kebijakan
fiskal secara umum adalah wujud tindakan pemerintah untuk menaikkan tingkat
kegiatan ekonomi dan mengurangi pengangguran. Langkah pemerintah untuk mencapai
tujuan tersebut adalah dengan menambah pengeluaran, mengurangi pajak yang
dipungut dari para penerima pendapatan dan perusahaan-perusahaan.

Kebijakan
fiskal juga merupakan langkah-langkah pemerintah dalam perpajakan dan
pengeluarannya untuk mempengaruhi tingkat kegiatan ekonomi. Pada analisis IS-LM
kebijakan pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kesempatan kerja yang
berhubungan dengan pendapatan.

Pemerintah
menjalankan kebijakan fiskal adalah dengan maksud untuk mempengaruhi jalannya
perekonomian atau dengan perkataan lain, dengan kebijakan fiskal pemerintah
berusaha mengarahkan jalannya perekonomian menuju keadaan yang diinginkannya.
Dengan melalui kebijakan fiskal, antara lain pemerintah dapat mempengaruhi
tingkat pendapatan nasional, dapat mempengaruhi kesempatan kerja, dapat mempengaruhi
tinggi rendahnya investasi nasional, dan dapat mempengaruhi distribusi
penghasilan nasional.

Dalam
kebijakan fiskal, inflasi dikendalikan dengan surplus anggaran. Cara yang tepat
adalah dengan mencetak uang dan pemerintah harus menjamin dengan cadangan
devisa yang cukup. Pada kebijakan fiskal berlaku 2 kebijaksanaan :

1)
Kebijaksanaan Ekspansif

Kebijaksanaan ekspansif adalah kebijaksanaan ekonomi makro yang mempunyai
tujuan untuk memperbesar kegiatan ekonomi dalam perekonomian.

2)
Kebijaksanaan Kontratif

Kebijakan kontratif adalah kebijaksanaan ekonomi makro yang tujuannya ialah
untuk menurunkan kegiatan ekonomi dalam perekonomian.

Permasalahan yang mungkin muncul
dalam kebijakan fiskal :

1)
Cara meningkatkan pajak

2)
Menyeimbangkan komposisi pajak

3)
Merancang pajak-pajak khusus

Macam-macam kebijakan fiskal :

1)
Functional finance adalah pembiayaan pemerintah yang
bersifat fungsional.

2)
The managed budget approach adalah pendekatan
pengelolaan anggaran.

3)
The stabilizing budget adalah stabilisasi anggaran
yang otomatis. Apabila gagal pemerintah dapat meningkatkan pengeluarannya
dengan menaikkan gaji PNS atau subsidi.

4)
Balance budget approach adalah pendekatan anggaran
belanjaseimbang, pemerintah berupaya memberi kepercayaan penuh kepada rakyat.

BAB III

PENUTUP

3.1
Kesimpulan

inflasi
adalah suatu keadaan perekonomian dimana harga-harga secara umum mengalami
kenaikan dalam waktu yang panjang. Inflasi secara umum dapat terjadi karena
jumlah uang beredar lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Inflasi merupakan
suatu gejala ekonomi yang tidak pernah dapat dihilangkan dengan tuntas.
Usaha-usaha yang dilakukan biasanya hanya sampai sebatas mengurangi dan
mengendalikannya. Tindakan yang dapat diambil untuk mengatasi inflasi dapat
berupa kebijakan moneter, kebijakan fiskal, atau kebijakan lainnya

Kebijakan
fiskal merupakan kebijakan pemerintah yang dilakukan dengan cara mempengaruhi
sisi penerimaan maupun sisi pengeluaran pada APBN. Sedangkan, Kebijakan moneter
adalah semua tindakan pemerintah yang bertujuan mempengaruhi jalannya
perekonomian melalui penambahan atau pengurangan jumlah uang yang beredar di
masyarakat. kebijakan moneter akan mempengaruhi pasar uang dan pasar surat
berharga.

Pasar uang
dan surat berharga itu akan menentukan tinggi rendahnya tingkat bunga, dan
tingkat bunga akan memperngaruhi tingkat agregat. Kebijakan fiskal akan
mempunyai pengaruh terhadap permintaan dan penawaran agregat, yang pada
giliranya permintaan dan penawaran agregat itu akan menentukan keadaan di pasar
barang dan jasa.

Kondisi di
pasar barang dan jasa ini akan menentukan tingkat harga dan kesempatan kerja
akan menentukan tingkat pendapatan dan tingkat upah yang di harapkan. Keduanya
akan memiliki umpan balik yaitu pendapatan akan memberikan umpan balik terhadap
permintaan agregat dan upah harapan mempunyai umpan balik terhadap penawaran
agregat dan pasar uang serta pasar surat berharga.

DAFTAR
PUSTAKA

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul: Makalah Inflasi dan Kebijakan Moneter
Ditulis oleh Unknown
Rating Blog 5 dari 5

Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kolaynf.blogspot.com/2016/05/makalah-inflasi-dan-kebijakan-moneter.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

Source