Terinspirasi dari buku “Negara bukan-bukan: prisma pemikiran Gus Dur tentang negara Pancasila” oleh Nur Khalik Ridwan

Admin prediksi setelah kampanye akbar Jokowi di GBK tanggal 13 April 2019 maka akan muncul narasi “Acara mana yang lebih islami?”, atau lebih ekstrim “Yang mana yang Islam?”

Berdasarkan buku diatas, Gus dur menyatakan bahwa ketika seseorang membawa Islam ke Ranah Politik maka dia akan memakai 2 pendekatan Ideologis dan etis

A. Ideologis : Mereka yang menginginkan Islam dijadikan formal dalam bentuk UU setinggi-tingginya , contohnya adalah piagam jakarta tentang syariat islam dan lebih kecil melalui perda syariah.

B.Etis : Mereka tidak mengutamakan Islam di Formalkan dalam UU dan kenegaraan asalkan substansinya tetap ada dan dihormati negara, Mereka mengutamakan penerapan Islam di level masyarakat dengan kata lain Etika Bermasyarakat.Gus Dur sendiri memilih pendekatan ini.

Perlukah Khilafah di Indonesia ? : Isu Populer Terkini

Mereka yang memakai ideologis akan menjawab “Perlu” dan cara yang akan dilakukan adalah MINIMAL menambah UU yang berdasarkan nilai Islam di level tertinggi (nasional) dan BELUM TENTU mengubah sistem keseluruhan, asumsinya adalah “Kemayoritasan Islam akan menjaga kemajemukan”

Mereka yang memakai etis akan menjawab “Tidak”, Walaupun kita mayoritas, kita harus meminimalisasi UU yang bernuansa Islami agar kehidupan negara tetap Inklusif dan majemuk.

Pembicaraan tentang Khilafah selalu mengutamakan narasi toxic “anda ga pro, anda ga peduli islam”, bukan ” “Apa Yang Sekarang Jauh dari Nilai Islam ?”

Kalo dipikir-pikir sebetulnya UU yang ada sudah sesuai dengan nilai-nilai islami
Judi : Pidana
Miras : Dikontrol
Prostitusi : Pidana
Kumpul Kebo : Pidana
“Internet Positif”

Jadi pada hakikatnya Umat Muslim yang mayoritas akan selalu terbagi cara berbangsanya minimal menjadi 2 seperti yang dijabarkan, walaupun demikian tetap JAGA SILATURAHMI, karena perpecahan terjadi karena ketidakinginan untuk memahami satu sama lain.