Gambar diambil dari detiknews.com 24 November 2018 oleh Andhika Dewi

Faktanya tidak ada yang bercita-cita jadi tukang ojek, namun apapun l;ebih baik asal halal dan ada prospek, hati -hati mengquote meme kalua tidak tahu sarkasme didalamnya

Pada Tanggal 21 November 2018 di acara Indonesia Economic Forum bertempat di Jakarta Prabowo menyatakan keprihatinannya bahwa banyak lulusan SMP dan sma menjadi tukang ojek dengan pernyataan “Saya ingin mengakhiri presentasi ini dengan realita yang sedih namun juga kejam. Ini adalah meme yang sedang tersebar di internet. Jalur karier seorang anak muda Indonesia. Yang paling kanan adalah topi Sekolah Dasar, topi Sekolah Menengah Pertama dan setelah dia lulus dari Sekolah Menengah Atas, dia menjadi supir ojek, ini adalah realita yang kejam” dilansir dari VOA.

Hal ini membuat Prabowo diserang oleh komunitas ojol yang dianggap menjelekkan pekerjaan mereka, demo terjadi di Gresik,Malang, dan tempat lainnya. Apakah Prabowo salah ?
Kalo di lihat tidak ada kata yang menghina bahkan memang faktanya pekerjaan ojek menjadi pilihan praktis mereka yang tidak punya ijazah S1 bahkan banyak juga lulusan S1- yang menjadi driver tentunya tingkat urgensi mereka berbeda. Go-Jek salah satu perusahaan transportasi online menyumbangkan 9.9 triliun ke perekonomian Indonesia dilansir dari kompas.com tanggal 22 maret 2018, dan memberikan lapangan kerja kepada puluhan ribu orang dengan rata -rata pendapatan yang bervariasi.

Dimana salahnya ?, yaitu “Meme” karena meme dipandang memiliki makna yang cendrung negative dan mengejek walaupun tidak sedikit yang lucu dan penuh inspirasi, wajar saja beberapa pihak menganggapnya serangan kepada profesi tersebut bahkan meme yang dimaksud tidak pernah dicantumkan sehingga semakin abu-abu antara positif dan negatif.dan juga multitafsir

Prabowo Subianto menggunakan meme dengan maksud “membaurkan diri” ke permasalahan masyarakat namun menjadi boomerang karena masyarakat kaget melihat pidato calon presiden mencantumkan meme tanpa sumber.