gambar dari antara foto

Jokowi : Pendekatan Data
Prabowo : Pendekatan Perasaan

“Loh min yang menang ya yang pake data dong, masa pake perasaan “

Dalam debat normal iya, dimana institusi/ juri yang mengadakan langsung menilai di saat itu juga atau dengan kata lain partisipant bersedia untuk di judge oleh mereka.

Sementara debat pilpres di akhiri dengan berpelukan,tidak ada review dari pihak KPU/ penyelenggara debat atau minimal masukan, hal ini dikarenakan kekhawatiran akan adanya kerusuhan antar simpatisan yang menganggap bahwa calon mereka “dijebak dengan tidak adil” akhirnya hasil debat dilempar kepada publik untuk dimaknai. Dengan Kata lain ada semacam After Show ( setelah acara) layaknya after sale ketika membeli gadget

Jokowi sebagai petahana menggunakan data yang didapatkannya secara langsung dan hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan hasil kerjanya. Pendekatan ini menciptakan argument yan kuat berupa angka-angka, namun ada risiko tersendiri yaitu jika data yang dikatakan berbeda dengan institusi.

Akibatnya Jokowi harus mengklarifikasi perbedaan data di BPS tentang import beras bahkan harus merevisi perkataannya dalam visi di awal bahwa tidak ada kebakaran hutan.Dengan kata lain after show (setelah acara) lebih penting dari acara sebenarnya

Prabowo sebagai Oposisi terlihat membawa perasaan….. atau lebih tepatnya sentimen swasembada, narasi swasembada yang muncul dari kebijakan import dekat dengan panen raya, sebuah sentiment yang menurutnya akan menjual dikalangan petani yang berpikiran sederhana “kita tanam ,negara beli”

Terlepas dari “Tanah Prabowo” dan “Unicorn itu apa?” after show Prabowo lebih multitafsir dalam makna baik maupun buruk, makna baik adalah bisa ditambahkan setelahnya. Buruknya adalah sangat ambigu dan “UUD 45” BUKAN LAH strategi