Gambar diambil dari geotimes.co.id, ‘Cebong Versus Kampret, oleh Asyari Attangkeli , (29 /07/2018)

Gambar Diatas Adalah Jawaban Kenapa Debat Ini Tidak “Substantif”

Pertanyaan Netizen yang sering diucapkan adalah ” Lho, kok cuma begini aja kok ga ada pertanyaan yang tajam?’, Menurut Admin jawabannya adalah KPU sedang mengetes kolam dimana perdebatan di sosial media antar simpatisan sangatlah sengit sehingga suasana menjadi “Toxic”. Istilah ini biasanya dipakai netizen ketika suatu pembicaraan dipenuhi Kebencian, Omongan Kotor , dan prejudice, Contoh : “ Lo ga sepaham ama gue artinya loe anak setan” .

A.Isu Hukum, Keduanya Buram, Ratna Sarumpaet

Setidaknya Jokowi lebih konkrit dalam isu Pembuatan Undang-Undang dengan keinginan untuk membentuk Badan Legislasi Nasional, sedangkan Prabowo menyatakan tentang pemberdayaan para ahli dan Peran Penting Presiden.

Hoaks Ratna Sarumpaet adalah pukulan telak bagi oposisi sebuah blunder yang faktanya sangat menyakiti image oposisi, bagaimana seorang tokoh utama oposisi justru yang secara langsung dan jelas melanggar hukum

B.Isu HAM, Difabel , serta Partisipasi Wanita

Simpel

Gif diambil dari www.tenor.com

Keberanian Presiden untuk melindungi pelapor adalah pondasi dari penegakan HAM, serta Pemberdayaan Difabel adalah penting, terutama bagi mereka yang semangat berkarya

Tentang Pemberdayaan Wanita juga terdapat sedikit dinamika dimana Jokowi menyatakan bahwa ada 8 menteri perempuan, sementara Prabowo menyatakan bahwa walaupun mereka perempuan tetapi tidak pro rakyat. Kemenangan pada akhirnya akan ditentukan oleh ” The Power of Emak-Emak “, karena merekalah yang jumlahnya lebih banyak dan merekalah pondasi dari keluarga Indonesia serta dalam demokrasi voting adalah segalanya.

C. Korupsi

Jokowi Transparansi Sistem, Prabowo Naikkan Gaji dan Hukuman Keras

Jokowi memberikan contoh tentang Penerimaan ASN yang sekarang sudah semakin transparan yang dulunya adalah ladang subur KKN serta mencontohkan dirinya ketika jadi Walikota Solo dan Gubernur DKI hampir tidak ada modalnya, pada intinya menyatakan bahwa partisipasi rakyat dalam memilih pemimpin bersih adalah pondasi utama dalam pemberantasan korupsi

Prabowo menitikberatkan Kenaikan Gaji sebagai solusi , jika gaji sudah tinggi maka tidak akan ada yang korupsi dan jika tetap ada maka akan ada hukuman berat seperti disuruh menambang pasir, Pendekatan ini terkenal dengan “Carrot and Stick” , pada intinya akan ada Insentif jika menghindari suatu tindakan dan Hukuman jika melakukan

Keduanya kurang substantif namun bisa dilihat kalau kenaikan gaji yang diutarakan oleh prabowo juga dikatakan untuk menaikkan elektabilitas.

D. Terrorisme

Cawapres Ma’aruf mendahulukan Deradikalisasi Humanis , Prabowo-Sandi mementingkan kemampuan orang yang ahli dan Perbaikan Ekonomi

Pada dasarnya pendapat kedua paslon bisa dikatakan 11-12 , dimana deradikalisasi yang humanis disampaikan oleh Cawapres Ma’Aruf sudah melingkup perbaikan ekonomi yang disampaikan Cawapres Sandiaga Uno, namun Prabowo menyatakan bahwa dirinya memiliki pengalaman dalam menyelesaikan hal ini dan menyatakan bahwa terrorisme adalah intervensi orang luar, dengan kata lain Prabowo memasukkan dirinya sebagai “Strongman”, Orang Kuat dalam menyelesaikan Terrorisme, sebuah usaha untuk meningkatkan elektabilitas

Kesimpulan : Tidak Ada Yang Menang Telak Karena Semuanya Tidak Terlalu Substantif

Jokowi-Ma’Aruf : Petahana Melanjutkan Sistem Sekarang

Kalau anda suka dengan sistem sekarang tidak ada yang bisa merubah pemikiran anda…. untuk saat ini

Prabowo-Sandiaga : Kenaikan Gaji, Sebuah Mantra Sakti

Kenaikan Gaji adalah kata kunci dari kebijakan yang disampaikan, strategi yang populis ini mungkin saja sudah di riset oleh para penasihatnya

Oposisi adalah tugas yang mulia ,namun sekarang kemuliaan itu harus diraih kembali setelah HOAKS Ratna Sarumpaet