(Gambar dari depokpos.com)

Selain Isu yang harus dilakukan oleh kedua paslon seperti revitalisasi SMK agar memenuhi permintaan kerja ada beberapa isu menarik yang jadi pembicaraan

A. Ki Ma’aruf : Badan Riset Nasional, Cyber University, Kartu Prakerja dan Kartu Kuliah
Ide Badan Riset Nasional yang sempat dibahas dan akan dibuat tujuannya adalah untuk memfokuskan riset secara nasional dan effisiensi anggaran. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan hal ini namun kita harus tetap mengawasi cara pembentukannya apakah dibuat dengan cara peleburan secara langsung ?, jika demikian apakah tidak akan merusak budaya kerja menimbang LIPI dan BPPT dua lembaga riset di Indonesia memiliki sifat yang berbeda dimana LIPI adalah riset sedangkan BPPT adalah penerapan, jika dileburkan begitu saja apakah tidak menganggu budaya riset kedua lembaga tersebut ?

Cyber University sendiri sebenarnya memiliki salah satu fitur yang menarik yaitu kuliah online dengan ijazah legal dan hal ini penting terutama bagi yang ingin banting setir atau sudah tua dan malu untuk duduk kembali dengan yang muda layaknya barang antik, wajarnya universitas semacam ini membuat biaya kuliah semakin murah

Kartu Kuliah akan berfungsi layaknya beasiswa untuk yang tak mampu agar bisa sekolah

Kartu Prakerja kembali disebut sebagai alat untuk menghubungkan Lulusan SMK yang akan diberikan pelatihan yang nantinya akan diberikan honor 6 sampai 1 tahun , memberikan kesan bahwa kartu ini akan dibagikan bersamaan dengan ijazah kelulusan, namun sampai sekarang belum ada SOP yang lebih kongkrit tentang kartu ini

B. Sandiaga Uno : Kolaborasi Riset , Penghapusan UN
Sandiaga menolak ide Badan Riset Nasional karena dianggap sebagai pembengkakan birokrasi dan mengutamakan kolaborasi riset antar lembaga serta insentif-insentif kepada swasta yang berpartisipasi.

Ide Penghapusan Ujian Nasional memberikan kesan tersendiri karena memang sebelumnya Ujian Nasional adalah syarat mutlak kelulusan , namun di masa sekarang sudah tidak demikian kembali terbukti dengan para siswa selesai ujian hari senin ,selasa sudah mencoret baju, berbeda dengan tahun 2005 an dimana harus menunggu berminggu-minggu dengan penuh doa untuk hasilnya

Ide ini juga ditolak oleh Mendikbud Muhadjir Effendy
“Soal namanya itu UN atau apa itu terserah, tetapi yang tidak bisa dihapus itu adalah evaluasi tingkat nasional dalam rangka untuk memastikan standar isi, proses dan seterusnya,” katanya di Cirebon, Senin (18/3/2019), menanggapi wacana Cawapres 02 Sandiaga Uno yang akan menghapuskan UN. dikutip dari beritasatu..com \

(gambar dari depokpos)