(Gambar diambil dari kitopinter.blogspot.com)

Ketika nyepi kemarin tidak sedikit yang membenturkan dengan puasa dengan mengkritik logika “Hormatilah yang tidak puasa”.

Ketika Natal, ada yang ramai mengucapkan selamat dan juga ada yang menyatakan Haram

Perayaan Imlek dan Cap Go Meh dikatakan “bukan budaya lokal”.

Respon Admin

Yang ribut tentang nyepi biasanya orang luar yang tidak pernah ke bali atau sudah menentukan hidupnya tidak akan tinggal di pulau dewata sehingga bisa dengan mudahnya mengkritik acara besar ini.

“Hormatilah yang tidak puasa “. adalah logika yang indah dan hanya benar jika tidak diucapkan dengan sembarangan. Logika ini bertujuan untuk MEMULAI proses hormat menghormati, kalo dikatakan sembarangan akan memberikan kesan ” jadi agama saya ga penting ya ?”

Fun Fact Tidak semua wilayah mayoritas Muslim merazia rumah makan dan tidak semua umat muslim setuju dengan hal ini.

Saya tidak menyalahkan mereka yang menyatakan “Natal itu Haram” ASALKAN tidak membuat rusuh, toh umat kristen tidak akan melakukan absensi muslim mana yang memberikan selamat dan umat muslim tidak akan melakukan absensi pada saat idul fitri dan idul adha

Tentang Imlek dan Acara Etnis Tionghoa yang dianggap “bukan budaya lokal”, maka saya berhak untuk teriak “Antek Aseng” kepada mereka yang makan mie ayam dan kuliner perpaduan lainnya.

Mungkin sampai para pembaca disini tutup usia rutinitas ini akan terus berlangsung karena inilah risiko sosmed di dunia demokrasi