Sosmed adalah platform yang memberikan kesempatan untuk mendapatkan satu faktor yang penting dalam memenangkan pemilu, factor itu adalah perhatian atas satu isu atau calon
Sosmed/ Sosial Media telah menjadi elemen yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat “jaman now”, dimana setiap profesi memerlukan personil yang dapat menggunakannya seperti para pengusaha membutuhkannya sebagai alat untuk memasang iklan dan Costumer Service, Institusi Pemerintah untuk menyampaikan pengumuman penting dan pengaduan masyarakat serta para relawan menggunakannya untuk mempopulerkan cara menggalang dana.Oleh karena itu tidak aneh jika aktor politik turut menggunakan social media untuk mendapatkan perhatian public dalam memenangkan pesta demokrasi yaitu pemilihan umum..Penulis menggunakan pemilu Presiden Amerika Serikat sebagai cermin Pemilihan Presiden Indonesia 2019.

Pemilu Presiden Amerika serikat ke 45 pada tahun 2016 telah selesai dengan terpilihnya Presiden Donald Trump seorang yang sangat tidak di unggulkan untuk menang, pembicaraan ini kemudian mengarah ke “seberapa besar pengaruh Sosial Media dalam pemenangan Donald Trump?”, jawabannya adalah sangat besar.

Dalam Memahami hal ini kita akan menggunakan satu hal yang sederhana tanpa menggunakan konspirasi yaitu “Trending”, dimana Tim Kampanye Trump dan simpatisannya mengintegrasikan dirinya dengan Facebook serta menyerang kader Demokrat Hillary Clinton, sederhananya Trump menyerang dengan metode yang sangat provokatif kepada pembaca yang tepat dengan menggunakan algorithma facebook dimana untuk menjadi trending berita tidak harus berkualitas dari segi jurnalistik maupun penelitian social namun harus memancing banyak “klik” serta kontribusi.

Hal ini mulai terjadi di Indonesia dimana berita HOAX semakin mudah menjadi trending baik di Facebook maupun media lainnya karena yang diperlukan untuk trending adalah berita provokatif, kemauan membayar untuk iklan,serta buzzer yang setia dan banyak.

Gambar dari : www.politico.com/story/2015/09/donald-trump-rich-lowry-feud-214004